Berita

Ratusan Wartawan Ditahan Karena Profesi Mereka, PBB: Tegakkan Jurnalisme Tanpa Rasa Takut

Laporan: Redaksi
KOMENTAR
post image

Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk kebebasan berekspresi, David Kaye,  mendesak negara-negara untuk membebaskan semua pekerja media yang ditahan karena pekerjaan mereka. Kaye juga menekankan untuk  menghentikan intimidasi dan penindasan pers independen.

Dalam rilis yang dikeluarkannya pada Jumat (1/5) kemarin, Kaye mengatakan pers bebas memberi akses ke segala jenis informasi, termasuk hal yang kritis selama krisis kesehatan masyarakat. Hal ini ia ungkapkan menjelang Hari Pers Sedunia, Minggu (3/5).

"Dalam beberapa bulan terakhir, jurnalisme independen telah menjadi pengungkit penting bagi informasi publik. Mengungkap cerita-cerita penipuan pemerintah sambil membantu orang-orang di seluruh dunia memahami sifat dan ruang lingkup krisis kesehatan publik yang kita semua hadapi," katanya yang ia tuangkan dalam keterangan tertulisnya dan ditayangkan pada laman United Nations Human Right, Sabtu (2/5).

Menurutnya tindakan menahan jurnalis amat bertentangan langsung dengan kewajiban Negara untuk memastikan lingkungan yang kondusif bagi media.

"Ratusan wartawan telah ditahan karena pekerjaan mereka," katanya.

Komite Perlindungan Jurnalis memperkirakan 250 jurnalis berada di penjara.

Reporters Without Borders telah meminta perhatian PBB untuk melakukan 'gelombang pelanggaran kebebasan pers.'

Kriminalisasi jurnalisme harus diakhiri. Itu bisa dimulai dengan membebaskan wartawan dari penahanan sebagai masalah yang mendesak.

Kaye menyebutkan, sejak wabah Covid-19 muncul, dia  telah menerima laporan yang mengkhawatirkan tentang pembalasan resmi terhadap jurnalis dengan kedok penyebaran disinformasi.

"Dalam laporan saya yang baru-baru ini diterbitkan kepada Dewan Hak Asasi Manusia PBB, saya menekankan cara pemerintah menyerang kurir dan membatasi pelaporan daripada bertindak secara responsif terhadap informasi yang diungkapkan," kata Kaye.

Tema Hari Kebebasan Pers Sedunia tahun ini adalah "Jurnalisme Tanpa Rasa Takut".

Kaye pun mendesak semua Negara untuk memastikan bahwa pekerja media dapat melakukan pekerjaan mereka tanpa rasa takut, mengingat bahwa jurnalisme memperluas hak publik untuk mengetahui dan hak publik untuk pemerintah yang bertanggung jawab."

Sumber: RMOL.id

Foto Lainnya

Pers Kita di Simpang Pandemi Covid 19

Sebelumnya

JMSI Bengkulu Bantu Masyarakat Terdampak Covid-19

Berikutnya

Artikel Berita